MAKALAH TUNANETRA PDF

Pendahuluan Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, dengan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini, selanjutnya shalawat dan salam ke-Ruh Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa manusia dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang saat ini. Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan, namun dibalik kesempurnaan itu terdapat beberapa orang yang memiliki keterbatasan. Seiring dengan perkembangan zaman anak-anak yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dalam segi fisik maupun mental telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, terbukti dengan dikeluarkannya Undang-Undang ABK Anak Berkebutuhan Khusus termasuk di Indonesia, pada tahun diatur dalam Undang-undang Nomor 20 tentang Satuan Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 5 Ayat 2. Melalui undang-undang yang berlaku di Indonesia, anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dari segi fisik maupun mental dapat diwadahi melalui pelayanan pendidikan yang disesuaikan atau khusus.

Author:Tosida Gogore
Country:Burma
Language:English (Spanish)
Genre:Video
Published (Last):27 December 2011
Pages:87
PDF File Size:3.77 Mb
ePub File Size:7.84 Mb
ISBN:200-5-79490-977-1
Downloads:41631
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Memi



Pendahuluan Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, dengan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini, selanjutnya shalawat dan salam ke-Ruh Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa manusia dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang saat ini. Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan, namun dibalik kesempurnaan itu terdapat beberapa orang yang memiliki keterbatasan.

Seiring dengan perkembangan zaman anak-anak yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dalam segi fisik maupun mental telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, terbukti dengan dikeluarkannya Undang-Undang ABK Anak Berkebutuhan Khusus termasuk di Indonesia, pada tahun diatur dalam Undang-undang Nomor 20 tentang Satuan Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 5 Ayat 2.

Melalui undang-undang yang berlaku di Indonesia, anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dari segi fisik maupun mental dapat diwadahi melalui pelayanan pendidikan yang disesuaikan atau khusus. Seperti halnya salah satu kelainan fisik yang diderita oleh anak berkebutuhan khusus yaitu anak yang memiliki keterbatasan penglihatan tunanetra.

Beranjak dari masalah diatas maka penulis akan membahas hal-hal yang mengenai anak tunarungu. Adapun ruang lingkup dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Pengertian dan Batasan Tunanetra 2. Ciri-ciri Tunanetra 4.

Perkembangan Kepribadian Anak Tunanetra 5. Metode Pembelajaran Tunanetra 6. Layanan-layanan Pendidikan Tunanetra Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode Library Research dan juga Analisis Content, yaitu merujuk langsung kepada sumber-sumber kepustakaan yang relevan menurut Penulis kemudian penulis melakukan analisis dengan sumber-sumber yang ada.

Kemudian yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pribadi mata kuliah Anak Berkebutuhan Khusus, kemudian bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang anak tunanetra. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, penulis memohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca makalah ini demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang. Jadi, tunanetra tidak hanya mereka yang buta saja melaikan mereka yang mampu melihat tetapi penglihatannya sangat kurang dan terbatas sekali sehingga tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran seperti halnya orang awas biasa.

Dalam hal ini adalah kedua-duanya indra penglihatanya tidak dapat berfungsi dengan baik. Akan tetapi, individu yang disebut sebagai tunanetra dalam hal ini ialah mereka yang tak mampu atau tidak dapat memanfaatkan indra penglihatannya secara optimal untuk kegiatan pembelajaran, sehingga perlu penanganan atau layanan yang khusus berkebutuhan khusus. Anak-anak dengan gangguan penglihatan ini dapat diketahui dalam kondisi berikut: 1. Ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang awas, 2.

Terjadi kekeruhan pada mata atau terdapat cairan tertentu, 3. Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak, dan 4. Terjadi kerusakan susunan syaraf otak yang berhubungan dengan penglihatan. Dari pengertian yang disampaikan para ahli, dapat disimpulkan bahwa gangguan penglihatan ketunanetraan merupakan suatu keterbatasan penglihatan yang dialami individu baik itu hanya berupa penglihatan terbatas maupun buta total yang mengakibatkan dirinya membutuhkan pelayanan dan pendidikan yang khusus agar perkembangan kognitif, motorik, emosi, sosial dan kepribadian penderita dapat terus berkembang optimal.

Artinya, berdasarkan tes, anak hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas dapat dibaca pada jarak 21 meter yang diukur dengan tes snellen card.

Anak-anak tunanetra menyimpan pengalaman-pengalaman khusus seperti anak awas, tetapi pengalaman-pengalaman tersebut kurang terintegrasikan.

Anak-anak tunanetra mendapat angka yang hampir sama dengan anak awas dalam hal berhitung, informasi, dan kosa kata, tetapi kurang baik dalam hal pemahaman comprehension dan persamaan.

Kosa kata anak-anak tunanetra cenderung merupakan kata-kata yang definitif, sedangkan anak awas menggunakan arti yang lebih luas. Contoh, bagi anak tunanetra kata malam berarti gelap atau hitam, sedangkan bagi anak awas, kata malam mempunyai makna cukup luas, seperti malam penuh bintang atau malam yang indah dengan sinar purnama.

Di lain pihak kemampuan mereka untuk memproses informasi sering berakhir dengan pengertian yang terpecah-pecah atau kurang terintegrasi, sekalipun dalam konsep yang sederhana. Disamping itu peningkatan dalam penggunaan media pembelajaran yang bersifat auditory dan taktil dapat mengurangi hambatan dalam kegiatan akademik siswa. Disamping itu pendengaran merupakan indra mereka yang dapat digunakan untuk mencapai kesuksesan.

Kesuksesan yang mereka peroleh karena mereka mempunyai bakat talented dalam bidang musik. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Pribadi dan Sosial Beberapa literatur mengemukakan karakteristik yang mungkin terjadi pada anak tunanetra yang tergolong buta sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari kebutaannya adalah: [10] a. Mudah tersinggung Pengalaman sehari-hari yang sering menimbulkan rasa kecewa dapat mempengaruhi tunanetra sehingga tekanan-tekanan suara tertentu atau singgungan fisik yang tidak sengaja dari orang lain dapat menyinggung perasaannya.

Ketergantungan pada orang lain Sifat ketergantungan pada orang lain mungkin saja terjadi pada tunanetra. Hal tersebut mungkin saja terjadi karena ia belum berusaha sepenuhnya dalam mengatasi kesulitannya sehingga selalu mengharapkan pertolongan orang lain. Aspek fisik dan sensoris Dilihat secara fisik, akan mudah ditentukan bahwa orang tersebut mengalami tunanetra.

Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi matanya dan sikap tubuhnya yang kurang ajeg serta agak kaku. Pada umumnya kondisi mata tunanetra dapat dengan jelas dibedakan dengan mata orang awas. Mata orang tunanetra ada yang terlihat putih semua, tidak ada bola matanya atau bola matanya agak menonjol keluar. Namun ada juga yang secara anatomis matanya, seperti orang awas sehingga kadang-kadang kita ragu kalau dia itu seorang tunanetra, tetapi kalau ia sudah bergerak atau berjalan akan tampak bahwa ia tunanetra.

Dalam segi indra, umumnya anak tunanetra menunjukkan kepekaan yang lebih baik ada indra pendengaran dan perabaan dibanding anak awas. Namun kepekaan tersebut tidak diperolehnya secara otomatis, melainkan melalui proses latihan. Dalam melakukan aktivitas motorik, seperti jalan, berlari atau melompat, cenderung menampakkan gerakan yang kaku dan kurang fleksibel.

Perilaku seperti itu disebut perilaku stereotipee stereotypic behavior. Perilaku stereotipe lainnya adalah menepuk-nepuk tangan. Selalu melihat suatu benda dengan memfokuskan pada titik-titik benda. Dengan mengerutkan dahi, ia mencoba melihat benda yang ada di sekitarnya. Memiringkan kepala apabila akan memulai melakukan suatu pekerjaan. Hal itu dilakukan untuk mencoba menyesuaikan cahaya yang ada dan daya lihatnya. Sisa penglihatannya mampu mengikuti gerak benda.

Apabila ada benda bergerak di depannya, ia akan mengikuti arah gerak benda tersebut sampai benda tersebut tidak tampak lagi. Faktor internal timbul dalam diri individu keturunan Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam individu itu sendiri intern , yakni sifat genetik yang di bawa individu akibat hasil persilangan yang salah karena terjadi atau terdapat beberapa kelainan, sehingga beberapa fungsi organ-organ tubuh akibat persilangan gen yang salah akan mengakibatkan terganggunya atau menjadi tidak dapat berfungsinya organ-organ tersebut dengan semestinya tidak optimal.

Faktor ini kemungkinan besar terjadi pada perkawinan antar keluarga dekat dan perkawinan antar tunanetra. Karena didalam keluarga memiliki kesamaan gen satu sama lainnya yang memungkinkan gen-gen tersebut membawa sifat suatu penyakit atau kecacatan tertentu.

Biasanya gen ini tidak tampak resesif , namun apabila gen-gen ini gen pembawa sifat kelainan tercampur dengan gen yang sehat dan dominan, maka gen pembawa sifat penyakit yang ada akan menjadi tampak. Begitupula dengan perkawinan antar atau salah satu penderita tunanetra yang membawa gen akan mewariskan sifat genetiknya. Pada umumnya faktor keturunan terdapat pada inti sel dalam bentuk kromosom yang berjumlah 23 pasang, kromosom ini terdiri dari zat yang kompleks yang dinamakan DNA. DNA membentuk gen-gen yang merupakan pembawa sifat bagi setiap karakteristik dalam tubuh.

Apabila terjadi kelainan genetik sebagai akibat keturunan dari kedua orang tua atau salah satu maka gen-gen inilah yang intinya akan diturunkan pada generasi berikutnya.

Faktor eksternal berasal dari luar individu Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar individu itu sendiri. Faktor-faktor ini bisa saja timbul karena kecelakaan atau terserang suatu penyakit. Penyebab ketunanetraan menurut Wardani yang dikelompokkan pada faktor eksternal, antara lain: [15] a. Penyakit rubella dan syphilis Rubella campak Jerman merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang sering berbahaya dan sulit didiagnosis secara klinis.

Jika seorang ibu terkena rubella pada usia kehamilan 3 bulan pertama maka virus tersebut dapat merusak pertumbuhan sel-sel pada janin dan merusak jaringan pada mata, telinga, atau organ lainnya sehingga kemungkinan besar anaknya lahir tunanetra atau tunarungu atau berkelainan lainnya.

Penyakit syphilis menyerang alat kelamin, jika terjadi pada ibu hamil maka penyakit tersebut akan merambat kedalam kandungan sehingga dapat menimbulkan kelainan pada bayi.

JURNAL AMPHIBI PDF

Tulisan Terakhir

Pendahuluan Secara etimologi kata tunanetra berasal dari tuna yang berarti rusak,netra berarti mata atau penglihatan. Jadi secara umum tuna netra berarti rusak penglihatan. Tunanetra berarti buta,tetapi buta belum tentu sama sekali gelap atau sama sekali tidak dapat melihat. Ada anak buta yang sama sekali tidak ada penglihatan,anak semacam ini biasanya disebut buta total. Disamping buta total, masih ada juga anak yang mempunyai sisa penglihatan tetapi tidak dapat dipergunakan untuk membaca dan menulis huruf biasa. Menurut Pertuni tunanetra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali buta total hingga mereka yang masih memiliki sisah penglihatan, tetapi tidak mampu menggunakan penglihatanya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam keadaan cahaya normal meski pun dibantu dengan kacamata kurang awas.

ANDRZEJ BUDA ENCYKLOPEDIA HIP HOPU PDF

Karena dalam beraktifitas manusia pada umumnya selalu menggunakan penglihatannya, dengan mata kita dapat mengamati dan mengetahui segala sesuatu dengan lebih baik, tentunya tanpa mengesampingkan alat indra yang lain. Mata adalah sumber cahaya, dari sana kita tahu apa itu biru, putih, hitam dan lainnya. Apa jadinya jika nikmat melihat tidak diizinkan menyertai kehidupan kita?. Lalu apa itu tunanetra? Bukankah setiap manusia berhak mendapat pengarahan dan pendidikan yang layak? Oleh karena itu, para calon pendidik perlu mengetahui tentang hal-hal yang berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus.

JBL CBT70J PDF

Masing-masing anak memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri, khususnya mengenai kebutuhan dan kemampuannya dalam belajar di sekolah. Anak-anak berkebutuhan khusus, adalah anak-anak yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, yang membedakan mereka dari anak-anak normal pada umumnya. Keadaan inilah yang menuntut adanya penyesuaian dalam pemberian layanan pendidikan yang dibutuhkan. Keragaman yang terjadi, memang terkadang menyulitkan guru dalam upaya pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Anak-anak tersebut, tentu saja tidak dapat dengan serta merta dilayani kebutuhan belajarnya sebagaimana anak-anak normal pada umumnya. Guru di sekolah haruslah dapat memberikan layanan pendidikan pada setiap anak berkebutuhan khusus, hanya sayangnya masih banyak guru-guru di sekolah dasar yang belum memahami tentang anak berkebutuhan khusus. Hal demikian tentu saja mereka juga tidak akan dapat memberikan layanan pendidikan yang optimal.

APC PF8VNT3-GR PDF

Motorik Perkembangan motorik lambat karena kondisi psikis yang kurang mendukung seperti pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan mengetahui adanya bahaya dan cara menghadapi keterampilan gerak yang serba terbatas serta kurangnya keberania dalam melakukan sesuatu. Pengklasifikasian Tunanetra Secara Umum 1. Buta total Seseorang dikatakan buta atau menjadi tunanetra total apabila orang tersebut sama sekali tidak mampu menerima rangsangan cahaya dari luar. Klasifikasi anak tuanetra didasarkan pada waktu terjadinya ketunanetraan, yaitu: 1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir Orang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan. Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil Orang telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan udah terlupakan.

Related Articles